Belajarlah Kepemimpinanan dari Anak Kecil


Mendadak saya teringat dengan ucapan saya sendiri saat memberikan direct suggestion kepada salah satu pasien hipnoterapi di Beji Depok yang memiliki keluhan  “merasa hidupnya stagnan, sama sekali tidak ada perubahan”.


Dalam proses terapi tersebut, spontan saya mengatakan "Belajarlah  dari seorang anak kecil. Bila ingin mengenal diri kita lebih dalam lagi, hidup kita ini adalah sebuah tahap metamorfosis. Di mulai dari fase janin, fase bayi, fase anak kecil, fase remaja, fase dewasa, fase tua, dan akhirnya kematian. Setiap fase mengalami perubahan, seperti halnya kupu-kupu. Dalam setiap fase akan banyak sekali perubahan dan peristiwa yang terjadi.

Namun, dasar dari semua fase tersebut adalah fase anak kecil, karena pada fase tersebut terjadi pembentukan karakter manusia. Di mana karakter tersebut akan digunakan dalam setiap fase berikutnya.


Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mau belajar dari mulai fase dasar, guna memperkokoh pondasi dari fase kehidupannya, agar lebih kuat dalam menanggung beban dan cobaan yang sudah pasti menimpa di fase-fase selanjutnya.
Banyak orang yang ingin tahu, Apa yang bisa kita pelajari dari sifat anak kecil  tentang kepemimpinan ?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sifat anak kecil, diantaranya adalah:
•    Bermental baja dan pantang menyerah
•    Jujur
•    Kreatif
•    Amanah
•    Fatonah
•    Patuh
•    Mau mendengarkan
•    Haus ilmu
•    Menyayangi orang tua


Bila kita aplikasikan secara total,  hasilnya pasti akan optimal.
ingin tahu, simak penjelasannya berikut ini !

♦Seorang pemimpin harus bermental baja dan pantang menyerah
Masih ingatkah ? Saat masih balita dan belajar berdiri, berapa kali anda terjatuh ?
Kejadian ini sudah pasti dialami oleh semua balita (bayi di bawah lima tahun) di dunia. Untuk bisa berdiri seperti sekarang ini, butuh proses panjang dan perjuangan yang luar biasa. Jatuh bangun yang dulu dialami saat belajar berdiri, jumlahnya bukan hanya belasan kali, tapi bisa puluhan kali bahkan tak jarang ada yang harus merasakan sakitnya saat terjatuh hingga ratusan kali.

Tapi ajaibnya, dia sepertinya tidak pernah mengenal rasa sakit ataupun kapok sama sekali, walaupun harus sering terjatuh, membentur tembok, terkilir, lututnya lecet, kepalanya benjol dan lain-lain, dia akan terus berusaha berdiri sampai bisa.
Pernah kah anda menyaksikan  seorang anak kecil yang menyerah di tengah jalan saat dia belajar berdiri?

Saya yakin anda tidak akan pernah menemukannya di muka bumi ini.
Sudah menjadi fitrahnya setiap anak kecil  terlahir dengan bekal mental baja dan keinginan yang kuat. Agar bisa berdiri, dia akan mencoba dan terus mencoba lagi. Hasil dari persistensinya, dia tidak hanya dapat berdiri saja, tapi bisa lebih dari itu, dia bisa berjalan bahkan mampu berlari untuk mengejar mimpi yang dia ingini, untuk dia gapai di kemudian hari nanti.

Begitu pula dengan seorang pemimpin, dia harus memiliki mental baja dan keinginan yang kuat.
Sekali dia jatuh, dia harus bangkit lagi secepatnya
Sekali dia gagal, dia harus bersaha lagi  secepatnya
Sekali menghadapi kebuntuan, dia harus mencari solusi alternative lagi secepatnya
Nah anak kecil saja pantang menyerah, apalagi Anda yang sudah dewasa?

Ada peribahasa Sunda “Cai karacak ninggang batu laun laun jadi dekok”
Yang artinya kita harus Persistent, keukeuh, semangat pantang mundur dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Seorang pemimpin harus jujur
Anak kecil itu orang yang paling jujur dibandingkan orang dewasa, karena anak kecil tahu jika bohong itu dosa. Selain itu anak kecil juga  belum terlalu banyak dipengaruhi oleh banyak hal, sehingga apa yang dilihat dan didengarnya, itulah yang ia ucapkan. Jadi tak salah jika anak kecil itu identik dengan kejujuran. Kalo gak percaya, coba anda sodorkan foto profil saya kepada anak kecil, jika dia mengatakan orang yang yang difoto itu ganteng, berarti memang anak kecil itu jujur..he he he

Begitu pula dengan seorang pemimpin, kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Pemimpin yang memegang teguh prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Masyarakat akan menaruh respek kepada pemimpin apabila dia diketahui dan juga terbukti memiliki kualitas kejujuran yang tinggi. Mereka sangat sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh dirinya memperoleh kepercayaan dari pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur atau  sidiq akan mudah diterima di hati masyarakat, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Cara mudah untuk menilai apakah seorang pemimpin yang jujur atau tidak, dilihat dari perkataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya.
Nabi dan Rosul merupakan seorang pemimpin, jadi kejujurannya tak usah lagi diragukan. Nabi Muhammad disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf: 46)
Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah “ash-shiddiqiyah” Yakni tunduk terhadap rasulsecara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus Allah.


Dalam Al-Qur’an surat At-taubah ayat 119, Allah SWT mengisyaratkan kepada muslimin untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yangbenar.”(QS. At-Taubah:119).

Artikel Terkait
  
Rahasia Kepemimpinan Dibalik Permainan

 

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website