Belajarlah dari Tukang Keok


Belajar lah dari tukang  Keok !

Ada cerita menarik dari seorang penjual makanan yang biasa berkeliling di area rumah saya, makanan yang dia jual ini terkenal dengan sebutan “KEOK”... sekali lagi saya sebut nama kuliner ini, namanya “KEOK”....

Saya yakin Anda  pasti langsung putar otak dan  mikir “Hah..... KEOK... bukankah itu artinya...  KALAH ? “

Sah sah saja sih  bila Anda langsung memiliki persepsi anda seperti itu. Tapi persepsi ini tidak berlaku bagi Chandra, pria penjual Keok yang sudah malang melintang selama belasan tahun di jagat dunia kuliner keliling di daerah Ciracas,  Jakarta Timur. Bagi Chandra, Keok adalah nama hasil ciptaannya  yang bikin “Hoki” untuk perjalanan hidupnya, terbukti hasil berjualan kue  yang rasanya enak dan gurih ini, dia berhasil menyekolahkan ke-3 anaknya.
Lalu apa yang menarik dari orang ini ?

Nah uniknya adalah, dia selalu melibatkan pelanggannya untuk turut serta memasak di atas pan yang berbentuk loyang setengah bundar dan berinteraksi dengan mereka. Untuk menarik perhatian pembeli yang rata-rata anak SD, dia sering melontarkan banyolan dengan gaya seperti  anak , bernyanyi, berpantun, bahkan membahas pelajaran-pelajaran sekolah dengan permainan. Maka tak heran jika   anak-anak selalu “menyemut” dagangannya setiap hari untuk antri  memesan kue  yang mirip dengan mini pancake ini.

Bila kita kaitkan dengan teori marketing, langkah yang dilakukan pria berusia 47 tahun ini disebut sebagai bagian dari  Experiental Marketing untuk  menimbulkan pengalaman secara emosional, yang secara otomatis  akan menjadi moment yang akan selalu diingat oleh pelanggannya. Dengan experiential marketing, pelanggan akan mampu membedakan produk dan jasa yang satu dengan lainnya karena mereka dapat merasakan dan memperoleh pengalaman secara langsung melalui lima pendekatan (sense, feel, think, act, relate), baik sebelum maupun ketika mereka mengkonsumsi sebuah produk tersebut. Cara ini banyak pula dilakukan oleh restoran-restoran besar,  seperti Cimory yang  mengajak anak bereksperiment untuk memerah susu sapi, Mocibo (Moci Bogor) yang mengajak anak untuk  bereksperiment  membuat moci yang  terbuat dari tepung ketan dengan berbagai rasa, seperti keju dan strawberry.

Lalu adakah hubungan antara cara Chandra dengan Hypnoselling ?

Bila anda amati apa yang dilakukan oleh penjual Keok ini sangat berkaitan dengan Hipnoselling, karena  sebenarnya apa yang dia sudah lakukan adalah aplikasi dari  teknik Hypnoselling, dia berhasil mempengaruhi khalayak, membuat mereka tertarik, lalu menjaga hubungan yang  positif dengan pelanggan,  agar setia dan terus melakukan “repetition buying “setiap hari. Jadi jangan kaget bila anda hendak membeli kuliner ini, akan melihat antrian pembeli dari kalangan anak-anak saja, tapi juga kalangan orang dewasa yang sudah punya memiliki anak. Dan yang membuat saya terkejut, saat  saya tanya mereka “Berapa lama mereka sudah menjadi pelanggannya Chandra?” Ternyata mereka adalah pelanggan setia sejak mereka masih SD !

Pria ini menuturkan bahwa strategi penjualan yang dia lakukan selama ini hanya berdasarkan kreativitas komunikasi  dan instingnya semata, buka hasil dari kuliah atau pelatihan.  Jadi dia tidak tahu sama sekali dengan istilah  Experiental Marketing maupun Hypnoselling, namun nyata nya dia berhasil mengaplikasikan ke-2 teori tersebut secara alami.

Nah, Chandra saja bisa,  bagaimana dengan Anda?

 

Artikel Terkait

Rahasia Kepemimpinan Dibalik Permainan


 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website