MENGAPA ANAK KORBAN BULLY MENJADI

DURHAKA KEPADA ORANG TUA

 

 


Pagi itu terasa tegang, dari jauh terdengar orang teriak bersahutan dalam suatu rumah, padahal waktu masih menunjukkan jam 5.30, matahari pun belum keluar dari peraduannya.
Setelah diperhatikan suaranya, ooh lagi lagi suara Doni, tetangga di pojok komplek. Walau jaraknya jauh ternyata suara nyaring anak kelas  2 SMP ini mampu  menggegerkan separuh warga komplek.

“Selidik punya selidik, pagi itu Doni menangis, teriak-teriak ingin  mogok sekolah. Padahal  malam sebelumnya dia terlihat semangat mengerjakan PR dari gurunya” kata ibunya sambil menahan amarah. Bagaimana tidak, karena dalam beberapa minggu ini Doni,anak semata wayangnya kerap membuat dirinya stress, terutama  pagi hari menjelang  jam berangkat sekolah. Ada saja alasan untuk Doni supaya tidak berangkat sekolah, khsususnya di hari Selasa. Usut punya usut ternya di hari Selasa itu Doni sering di bully oleh teman-teman sekolah dari kelas yang berbeda, karena hari selasa adapelajaran olah raga, dan di hari tersebut 3 kelas yang berbeda harus berkumpul. Nah di moment itulah Doni kerap kali kena bully.

Walaupun dia kesal dan marahnya memuncak, tapi  dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak  berani melawan teman-temannya. Doni ini tipe anak lugu, dan jarangn bicara sehingga apa pun masalah yang dia hadapi, dipendam sendiri. Akibatnya, dia melampiaskan kekesalannya dengan bermain game, tak jarang di uring-uringan tanpa sebab, sulit untuk dinasehati oleh orang tua nya, bahkan di kelas 2 SMP ini dia sudah berani membantah dan melawan orang tuanya, dan memang jika diperhatikan postur tubuhnya sudah beranjak dewasa sebesar tubuh ayahnya. Mungkin factor ini pula yang menyebabkan dia berani melawan orang tuanya.

Bukankah melawan orang tua adalah perbuatan durhaka kepada orang tua, terlebih jika sering membuat ibunya menangis karena tingkah lakunya menjadi “tidak jelas” tutur ibunya lagi.
Ditambah lagi yang paling membuat kesal ibunya, Doni sering bolos sekolah, dahulu hanya bolos di hari selasa kini dia bisa bolos ber hari-hari lamanya, secara otomatis nilai prestasi di sekolahnya merosot tajam, Ini yang menyebabkan orang tuanya malu karena kerap kali dipanggil oleh phak sekolah bahkan pernah Doni pernah di skors.
Inilah sepintas kisah nyata dari cerita klien saya (nama disamarkan). Sebenarnya masalah serupa tidak hanya terjadi pada Doni, banyak anak-anak di Indonesia ini yang menjadi korban bully, bukan hanya oleh teman-temannya bahkan oleh gurunya sendiri, terlepas guru tersebut menyadari atau tidak. Namun yang pasti dampak bully ini berakibat buruk terhadap perilaku anak, baik itu di sekolah maupun di rumah.

Saya akan berbagi  pengalaman dalam  menangani kasus ini, menggunakan teknik Hipnoterapi.

Biasanya korban bully khsususnya remaja, akan mengalami gangguan psikologi dan jika dibiarkan akan membahayakan, bukan hanya untuk dirinyabisa juga orang lain.
Pengaruh atau konsekwensi psikologi  akibat bully ini  adalah masalah kesehatan mental yang serius, sehingga orang tua dan guru perlu menyadari untuk melakukan perawatan yang lebih baik bagi siswa dan anak-anak mereka.

Masalah Sosial
Bullying menciptakan lingkaran setan bagi korban dalam kehidupan sosial mereka . Salah satu reaksi yang paling umum dari intimidasi yang terjadi pada anak-anak adalah, mereka akan mulai bertindak lebih muda dari usianya. Dalam upaya untuk melindungi diri dari situasi bullying, mereka seolah akan sulit menjadi dewasa. Ini ditafsirkan oleh teman-teman mereka sebagai “bayi”. Semakin anak cenderung terhadap guru, dan ketika menjadi dewasa akan berharap untuk dilindungi, dan yang sudah keras menjadi pembully; terutama akan merusak selama tahun-tahun pra-remaja, ketika anak-anak mencoba untuk memahami tentang bagaimana cara mengembangkan hubungan pribadi dengan rekan-rekan mereka. Hal ini bisa memiliki konsekuensi seumur hidup pada kemampuan individu untuk ikatan dengan orang lain/sosial.

Kecemasan dan Depresi
Pada anak yang lebih tua dan remaja, efek bullying sering lebih diinternalisasikan. Selama tahun-tahun remaja, anak muda mendambakan ketergantungan dan tidak menginginkan bantuan. Mereka akan, oleh karena itu, berusaha untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Karena keterampilan “mengatasi” mereka tidak cukup berkembang pada usia ini, maka ketika menghadapi situasi bullying yang rumit, mereka mulai menginternalisasi masalah dan mengembangkan rasa tak berdaya. Hal ini bisa mengakibatkan gangguan depresi dan kecemasan. Jika dibiarkan, kecemasan ini bahkan bisa mulai memanifestasikan dirinya menjadi gangguan makan, paling sering anoreksia dan bulimia terutama pada korban perempuan.
Manifestasi fisik dari Bully
Kadang-kadang ketika anak muda tidak tahu bagaimana cara menangani emosi yang mereka alami, mereka mungkin mulai mengalami gejala psikosomatik; ini adalah hasil dari emosi yang diwujudkan dalam kondisi fisik. Dr. Sansone menyebutkan bahwa penelitian di Amerika Serikat dan di Finlandia telah menunjukkan hubungan langsung antara anak-anak yang dibully dan peningkatan kejadian sakit kepala, sakit perut, mengompol dan masalah tidur. Semua manifestasi fisik ini bisa menambah peningkatan kesulitan anak dengan perkembangan sosial mereka; yang pada gilirannya akan melanjutkan siklus bullying. Misalnya seorang anak yang berhubungan dengan masalah tidur, mungkin ia kelelahan di sekolah dan mulai melakukan hal buruk. Hal ini bisa dengan mudah menjadi pemicu untuk kejadian intimidasi di masa depan. Dalam upaya untuk meringankan ketidaknyamanan anak-anak,  orang tua biasanya akan mengambil obat-obatan yang sebenarnya hanya untuk penyakit fisik;  sementara penyebab emosional dari sisa masalah belum terpecahkan.
Walaupun beda pasien beda teknik yang digunakan, tapi biasanya dalam menangani kasus bully ini, di sesi pertama Hipnoterapi, saya  terlebih dahulu mengeluarkan “air kotor melalui selang si pasien”, setelah bersih baru bisa di “install” atau di “reprogramming kembali “ alam bawah sadar pasien.
Saya ibaratkan air kotor  adalah emosi dan energi yang dimiliki oleh si pasien korban bully, sedangkan selang pemadam kebakaran adalah perumpamaan dari pikiran, perasaan dan badannya.
Jika diperhatikan, selang pemadam kebakaran yang sedang digunakan dan dialiri air untuk memadamkan api, akan tegang dan bertekanan besar, sehingga bisa  memaksa lebih dari 1 orang untuk memegangnya. Tapiakan terjadi sebaliknya jika selang tidak dialiri air, dia menjadi  tersebut lemas dan layu, sehingga mudah untuk dilipat.
Nah begitu pula dengan korban bully, selama emosi dan energy negatifnya masih mengukung di dalam pikiran, perasaan, dan badannya, menjadi sangat sulit untuk dikendalikan, karena emosinya labil, sehingga nasihat apapun diberikan, pasti masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
Untuk menangani masalah bully ini, umumnya membutuhkan  3 sesi Hipnoterapi. Dan pada proses hipnoterapi sesi ke 2, orang tua akan didudukan bersama dengan anaknya untuk menselaraskan komunikasi antara orang tua dan anak, dan membuat program terintegrasi agar efektivitas hipnoterapi bisa berdampak permanen guna masa depan anak yang lebih baik.
Dan sebaiknya anda sekarang menghubungi 081310831118 untuk berkonsultasi secara gratis perihal anak anda, terlebih jika dia adalah korban bully ataupun memiliki permasalah belajar di sekolahnya.




 

 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website