Rahasia Kepemimpinan Dibalik Permainan



Tak sedikit orang yang penasaran apa hubungan antara kepemimpinan dan permainan, bisa jadi anda adalah salah satunya.

Sudah banyak buku yang beredar dengan pembahasan tentang kepemimpinan, atau terkenal dengan istilah leadership. Namun sangat jarang buku yang eredar di pasaran mengupas tentang kepemimpinan dan mengaitkannya dengan permainan, khususnya permainan tradisional yang berasal dari ranah Sunda.

Pemimpin hebat dunia itu dulunya  pernah jadi anak kecil, mustahil dengan sim salabim tiba-tiba menjadi dewasa. Jadi sudah pasti dia mengalami proses kehidupan dan mendapatkan pelajaran dari kehidupan, salah satunya melalui permainan. Baca juga artikel Spiritual Public Speaking


Ada informasi menarik yang dipaparkan oleh Bapak Permainan Tradisional Indonesia, Mohamad Zaini Alif, yang juga pendiri komunitas Hong, tentang mainan dan permainan, diantaranya adalah :

  • Bermain bukan hanya mencari kesenangan melainkan juga mengandung filosofi. Dalam permainan tradisional banyak konsep pembelajaran hidup yang akan terbawa hingga dewasa
  • Permainan menciptakan pembiasaan dan diberikannya stimulus yang sama dan berulang-ulang pada anak reseptor (reseptors) mengajarkan anak-anak mempersiapkan masa dewasanya.
  • Permainan lahir dari hasil interaksi manusia dengan alam dan lingkungan budayanya, menghasilkan ragam mainan dan permainan di setiap wilayah tetapi pada bentuk dan jenis memiliki kesamaan
  • Bermain adalah kepasrahan menerima apapun dengan sukarela maka mainan akan menjadi artefak yang lebih mendekati originalitas dari budaya tersebut.
  • Mainan dan permainan tradisional memiliki persamaan wujud dan bentuk yang lahir dari hasil interaksi antara tubuh yang  sedang megnalami proses pengenalan terhadap diri, alam dan Tuhannya.
  • Bermain sebagai media meneruskan citra kemanusiaan
  • Melalui bermain anak melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari pekerjaan sejarah umat manusia  (teori Rekapitulasi).
  • Permainan mengandung aturan, hukuman dan orientasi menang dan kalah

Ada banyak sekali jenis permainan yang biasa dilakukan oleh anak-anak, terutama dalam lingkungan Sunda, permainan ini biasa disebut dengan “Kaulinan Barudak Sunda”. . Di daerah Jawa Barat terdapat 250 jenis mainan tradisional, dan penelaahannya di awali dari naskah kuno abad ke-14, Naskah Siksa Kanda Ng Karesia, yaitu naskah yang berasala dari Kabuyutan Ciburuy yang berada di lereng gunung Cikuray Garut Selatan. Hal penting yang belum diketahui, pada masa itu, orang yang memiliki keahlian dalam permainan, disetarakan dengan keahlian lain seperti ahli pantun, ahli karawitan, ahli cerita atau dalang, ahli tempa, ahli ukir, ahli masak, ahli kain dan keahlian lainnya.

Dalam Siksa kandang Ng Karesian disebutkan “...Hayang nyaho di pamaceh ma: ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuypanca, munikeun le(m)bur, ngadulesung, asup kana lantar, ngadu nini, singwatek (ka) ulinan ma, hempul tanya....”yang artinya “ ...Bila kita ingn tahu permainan seperti: ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuypanca, munikeun le(m)bur, ngadulesung, asup kana lantar, ngadu nini, singwatek (ka) ulinan m, tanyalah Empul...” (Saleh Danasamita, 1986:83, 107)

Tahukah Anda, dibalik permainan anak traidisional ternyata banyak terpendam  bongkahan filosofi dan makna tersembunyi yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan, salah satunya adalah filosofi kepemimpinan. Dan semua pasti setuju  bahwa mengajarkan kepemimpinan kepada anak melalui permainan adalah cara yang efektif. Maka tak heran jika para leluhur kita di seluruh nusantara khususnya suku Sunda sudah menerapkannya sejak dahulu, melalui permainan anak-anak / kaulinan barudak. Caranya dengan menyisipkan simbol dan filosofi kepemimpinan ke dalam permainan tersebut. Hal ini bertujuan  untuk melatih komunikasi dan kepemimpinan  sejak dini.

Permainan juga merupakan media atau alat untuk menstimulasi fungsi tubuh dan submodalitis manusia, sehingga bila kita  memainkan permainan, kita terstimulasi untuk menggerakan badan, mengoptimalkan penglihatan dan pendengaran. Menariknya, dalam beberapa jenis permainan tradisional Sunda mampu menstimulasi intuisi, dan semua pasti sudah tahu jika kemampuan intuisi sangat diperlukan oleh seorang pemimpin.
Mungkin belum banyak orang yang mengetahui informasi ini, jadi suatu hal yang baik bagi anda bisa memperoleh informasi dan pengetahuan berharga dari website ini

Permainan, Kepemimpinan dan Budaya

Sudah menjadi suatu keharusan bagi kita sebagai orang tua untuk meneruskan misi para leluhur bangsa  dengan cara menanamkan jiwa kepemimpinan yang kuat kepada anak sejak dini dan membiasakan diri mereka untuk selalu senantiasa  bertanggung jawab, agar  kelak nanti bisa  menjadi pemimpin besar yang hebat. Maka tak heran jika  hampir semua orang tua menginginkan anaknya kelak menjadi seorang pemimpin, termasuk Anda kan?

Ada banyak cara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan, salah satunya adalah melalui permainan, dan yang namanya permainan tidak hanya didominasi oleh anak kecil, namun bisa juga dilakukan oleh orang dewasa, karena orang dewasa pun masih perlu bermain, dan senang dengan permainan.

Ada fakta yang mengejutkan, seiring dengan tingkat stress yang dimiliki oleh orang dewasa saat ini, yang diakibatkan oleh dampak  dari persaingan, kehidupan sosial, ekonomi dan sebagainya, dapat mengakibatkan peningkatan stress bagi banyak orang, khususnya dialami oleh orang dewasa. Untuk itu mereka butuh objek untuk mengalihkan fokus sejenak dari rutinitas  sehari-hari dengan cara mencari “penyaluran” untuk melepaskan beban, ketegangan, penat, stress, khawatir yang sering mreka rasakan. Dan salah satu penyaluran  yang aman dan nyaman adalah dengan bermain. Ada banyak permainan yang biasa mereka mainkan, seperti  bermain games di laptop, gadget, permainan di acara Outbond dan sebagainya.

Jadi, siapa bilang bermain itu  hanya milik anak-anak, orang dewasa pun ternyata  butuh untuk bermain. Menurut penelitian, melakukan aneka permainan yang menyenangkan dan bisa membuat gembira,  seperti bermain sepeda, sepak bola, bermain game dengan teman-teman, mampu mendongkrak kebahagiaan dan membuat hidup menjadi lebih produktif, baik dalam hal pendidikan maupun pekerjaan. Oleh karena  itu jangan heran jika anda menemukan banyak orang dewasa yang masih  suka dengan permainan, bahkan bisa jadi level kesukaannya lebih tingggi dibandingkan anak kecil.

Bila kita telusuri, ada banyak sekali permainan yang dapat dimainkan oleh orang dewasa dan juga anak kecil, yang bisa dilakukan baik itu indoor maupun outdoor, berupa permainan individu ataupun permainan untuk kelompok, dan idantaranya berupa permainan tradisional Sunda. Permainan tradisional ini sangat terkenal dan familiar dikalangan orang Indonesia, khususnya suku Sunda.

Dan ternyata, jika kita membiasakan anak-anak untuk bermain permainan tradisional Sunda ada 2 manfaat  berguna yang bisa  bermanfaat bagi mereka, yaitu:


1.    Menanamkan Jiwa Kepemimpinan Anak sejak Dini
Bisa jadi  Anda penasaran bagaimana cara menanamkan jiwa kepemimpinan pada anak secara baik dan benar, serta mengaplikasikannya sehari-hari?
Banyak pemimpin hebat di muka bumi dan jagat raya ini,  namun tak satu pun dari mereka berani memberikan jaminan untuk bisa meneruskan kepemimpinannya kepada anak-anaknya 100%. Kepemimpinan bukanlah anugerah yang serta merta diberikan oleh Tuhan, namun kepemimpinanan butuh proses, butuh tahapan-tahapan yang panjang agar kualitas kepemimpinannya menjadi lebih “matang”. Oleh sebab itu jiwa kepemimpinan sudah seharusnya ditanamkan sejak dini, saat mereka masih anak-anak. Oleh karena itu jangan menganggap  enteng fase tumbuh kembang anak hingga remaja, karena fase inilah yang membentuk karakter mereka di masa depan.

Saya tanya Anda, siapa yang seharusnya paling mengenal karakter dan sifat anak-anaknya dalam sebuah keluaga?

Ya betul. Jawabannya  adalah orang tuanya sendiri.

Orang tua harus  lebih mengenal anaknya sendiri dibandingkan orang lain terutama dalam mengenal karakter anak yang merupakan darah dagingnya sendiri. Seperti kita ketahui bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, tak satupun yang sama di antara milyaran manusia di dunia. Meskipun  mereka adalah  bayi kembar siam, pasti memiliki perbedaan di antara keduanya, baik itu sifatnya, karakternya, hobinya, seleranya dan sebagainya.

Jika Anda adalah  orang tua atau siapa pun dia yang mencintai  anak kecil pasti paham dan mengenali karakter mereka,  banyak ragam karakter yang bisa kita jumpai, ada anak yang berkarakter malas, keras, manja, suka menangis, pendiam dan lain-lain. Biasanya karakter tersebut memang sudah bisa dilihat semenjak mereka masih kecil, fase pembentukan karakter.

Bila kita bicara lebih spesifik, karakter seorang anak terbentuk saat dia berusia 3 hingga 10 tahun, banyak orang menyebutnya sebagai masa golden age. Pada usia ini, pikiran anak sangat peka dan responsive terhadap input apa saja yang berasal dari luar dirinya. Sehingga orang tua harus mengambil alih dan berusaha untuk mendominasi input yang positif kepada anak, karena input positif inilah bisa membentuk karakter anak yang berkualitas.

Hal penting yang harus Anda garis bawahi, jika orang tua kurang memberikan bimbingan secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, dan anda pasti sudah tahu bahwa lingkungan bisa menyumbang berbagai macam input kepada anak, dan sayangnya lebih banyak  input negatifnya daripada positifnya.

Begitu pula dengan jenis permainan yang diajarkan kepada anak, bentuk permainan anak yang baik akan bisa membantu dalam pembentukan karakter pada anak. Selain itu permainan yang menyisipkan kepemimpinan akan membantu untuk menumbuhkan karakter pemimpin di dalam diri anak.

Namun sebaliknya, bila anak disuguhkan permainan yang buruk, seperti permainan dalam gadget atau video game yang berisi konten  kekerasan, maka akan menumbuhkan karakter anak yang offensive, destruktif, sulit mengendalikan emosi, introvert bahkan tidak menutup kemungkinan anak memiliki karakter  destruktif atau merusak, fakta  ini didapat berdasarkan pada pengalaman saya dalam menangani pasien anak yang memiliki masalah kecanduan game online dengan tema kekerasan, dengan teknik hipnoterapi.

Oleh sebab itu sebagai orang tua, Anda harus memiliki strategi dalam mendidik dan menyiasati berbagai karakter anak. Dan poin yang tidak kalah penting, saat menyikapi hal ini anda harus  menyadari bahwa kondisi saat ini berbeda dengan kondisi di zaman anda sebelumnya, untuk itu  setiap orang tua harus meng upgrade pengetahuan tentang cara mendidik anak dan meng up to date informasi yang berikaitan dengan dunia anak dan remaja, serta meningkatkan kecakapan komunikasi dalam keluarga, khususnya cara membangun komunikasi 2 arah dengan anak. Dan bila perlu, anda seharusnya  berkonsultasi dengan konselor profesional di bidang parenting, psikologi ataupun  hipnoterapis yang telah berpengalaman dalam menangani masalah anak dan permasalahan keluarga. Nah sebagai referensi utama, anda bisa langsung mengunjungi www.ridwansank.com sekarang juga

2.    Melestarikan budaya melalui permainan tradisional Sunda

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menjaga budaya bangsanya, dan bangsa yang bisa melestarikan kearifan lokal.

Kalo bukan kita siapa lagi ?
Kalo bukan sekarang, kapan lagi ?

Nah dengan membaca buku ini, anda sudah ikut berperan serta untuk melestarikan budaya bangsa, melalui permainan tradisional Sunda. Dan jika anda ingin lebih berperan aktif lagi, baca buku ini, pinjamkan buku ini  kepada saudara dan teman-teman, lalu sebarkan ilmunya  kepada orang lain melalui aktivitas permainan tradisional Sunda.

Sadarkah Anda ?
Kita sering bangga saat menjadi bagian dari era globalisasi, tapi kita lebih sering rendah diri saat menjalankan ajaran leluhur kita sendiri. Dan  permainan tradisional Sunda merpakan bagian dari ajaran leluhur kita, oleh karena itu ayo kita cari, kita gali, kita eksplorasi dan hidupkan kembali permainan tradisional anak Indonesia, khusususnya permainan tradisional Sunda!

Jadi.. sambil bermain, sambil belajar tentang kepemimpinan, juga sambil melestarikan budaya tradisional Indonesia, khususnya budaya Sunda,

SEPATU.........Sepakat & Setuju ?



Artikel terkait  

Instrument Pikiran Manusia 




 






 

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website