Mengapa Kini Banyak Siswa Bermasalah ?

 

 

Jika Anda adalah orang tua, seberapa sering anak Anda bikin masalah ?
Jika Anda adalah guru, seberapa sering siswa Anda bolos sekolah ?
Jika Anda adalah siswa, seberapa sering mengalami stres akibat masalah keluarga, pergaulan dan sekolah?

Menjelang Ujian Nasional ini, saya sebagai hipnoterapis, kerap kebanjiran pasien dari kalangan pelajar dan mereka bermasalah. Ada banyak masalah yang mereka alami, salah satunya adalah EBD ?

Jika Anda memang orang tua dan guru bijak, coba baca penjelasan saya berikut ini.

EBD adalah singkatan dari Emotional dan And Behavioral Disorder, di Indonesia dikenal dengan istilah Tunaraksa.

Emotional And Behavioral Disorder adalah kondisi perilaku atau emosional seorang siswa di sekolah berbeda dengan anak lainnya.

Hallahan dan Kauffman (2006) dapat dimulai dari tiga ciri khas kondisi emosi dan perilaku, antara lain yaitu :

 

 

 

  1. Tingkah laku yang sangat ekstrim dan bukan hanya berbeda dengan tingkah laku anak lainnya.
  2. Suatu problem emosi dan tingkah perilaku yang kronis, yang tidak muncul secara langsung,
  3. Tingkah laku yang tidak diharapkan oleh lingkungan karena bertentangan dengan harapan sosial dan cultural.

    Heward & Orlansky (1988) dalam Sunardi (1996) mengatakan seseorang dikatakan mengalami gangguan perilaku apabila memiliki satu atau lebih dari lima karakteristik berikut dalam kurun waktu yang lama, yaitu:
  1. Ketidakmampuan untuk belajar yang bukan disebabkan oleh faktor intelektualitas, alat indra maupun kesehatan.
  2.  Ketidakmampuan untuk membangun atau memelihara kepuasan dalam menjalin Hubungan dengan teman sebaya dan pendidik.
  3. Tipe perilaku yang tidak sesuai atau perasaan yang di bawah keadaan normal.
  4. Mudah terbawa suasana hati (emosi labil), ketidakbahagiaan, atau depresi. Kecenderungan untuk mengembangkan simtom-simtom fisik atau ketakutan-ketakutan yang diasosiasikan dengan permasalahan permasalahan pribadi atau sekolah.
  5. Simptom gangguan emosi dan perilaku biasanya dibagi menjadi dua macam, yaitu externalizing behavior dan internalizing behavior.
  6. Externalizing behavior memiliki dampak langsung atau tidak langsung terhadap orang lain, contohnya perilaku agresif, suka berkelahi atau tawuran, membully teman, bolos sekolah, membangkang, tidak patuh, berbohong, malas belajar, mencuri, membegal, dan kurangnya kendali diri.
  7. Internalizing behavior mempengaruhi siswa dengan berbagai macam gangguan seperti kecemasan, depresi, menarik diri dari interaksi sosial, gangguan makan, dan kecenderungan untuk bunuh diri.
  8. Kedua tipe tersebut memiliki pengaruh yang sama buruknya terhadap kegagalan dalam belajar di sekolah (Hallahan & Kauffman, 1988; Eggen & Kauchak, 1997).
  9. Lebih lanjut, Hallahan & Kauffman (1988) menjelaskan tentang karakteristik anak dengan gangguan perilaku dan emosi, sebagai berikut:
  10. Inteligensi dan Prestasi Belajar
  11. Beberapa ahli, seperti dikutip oleh Hallahan dan Kauffman, 1988. menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan ini memiliki inteligensi di bawah normal (sekitar 90) dan beberapa di atas bright normal.
  12. Karakteristik Sosial dan Emosi. Agresif, acting-out behavior (externalizing).

  13. 3. Conduct disorder (gangguan perilaku) merupakan permasalahan yang paling sering ditunjukkan oleh anak dengan gangguan emosi atau perilaku. Perilaku-perilaku tersebut seperti: memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, menolak untuk menuruti permintaan orang lain, menangis, merusak, vandalisme, memeras, yang apabila terjadi dengan frekuensi tinggi maka anak dapat dikatakan mengalami gangguan. Anak normal lain mungkin juga melakukan perilaku-perilaku tersebut tetapi tidak secara impulsif dan sesering anak dengan conduct disorder.
  14. Immature, withdrawl behavior (internalizing)
    Anak dengan gangguan ini, menunjukkan perilaku immature (tidak matang atau kekanak-kanakan) dan menarik diri. Mereka mengalami keterasingan sosial, hanya mempunyai beberapa orang teman, jarang bermain dengan anak seusianya, dan kurang memiliki ketrampilan sosial yang dibutuhkan untuk bersenang-senang. Beberapa di antara mereka mengasingkan diri untuk berkhayal atau melamun, merasakan ketakutan yang melampaui keadaan sebenarnya, mengeluhkan rasa sakit yang sedikit dan membiarkan “penyakit” mereka terlibat dalam aktivitas normal. Ada diantara mereka mengalami regresi yaitu kembali pada tahap-tahap awal perkembangan dan selalu meminta bantuan dan perhatian, dan beberapa diantara mereka menjadi tertekan (depresi) tanpa alasan yang jelas (Hallahan dan Kauffman, 1988).

 

Jika Anda adalah orang tua, sebaiknya segera cari solusi dengan HIPNOTERAPI sebelum anak anda semakin bermasalah saat dewasa nanti.
Jika anda adalah guru sekolah, sebaiknya segera gelar seminar HIPNOVASI yang berjudul HIPNOLISTIC LEARNING untuk mental siswa dalam menghadapi Ujian Nasional nanti.Anda bisa menghubungi kami di 081310831118 untuk reservasi jadwal


Artikel terkait

► Persepsi Salah tentang Hypnoteaching

► Mengajar itu Seni

 

 

 

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website