Persepsi Salah tentang Hypnoteaching


Saat pertama masuk ruang aula, tempat dimana seminar Hypnoteaching diselenggarakan, yaitu di salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam di kawasan Jakarta Timur,  peserta langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik, diantaranya adalah “Jikaguru mempraktekkan hypnoteaching di kelas, semua siswanya akan tertidur donk?
Nanti suasana di kelas jadi tidak aktif”

Ada lagi pertanyaan seperti ini...... “Apakah guru bisa mengorek permasalahan siswa dan mengorek rahasia mereka?”
Benarkah dengan menguasai teknik ini, seorang guru dapat melipatgandakan daya magnetismenya di hadapan siswanya?
Dan banyak lagi pertanyaan dan pernyataan dari peserta yang membuat saya tersenyum bahkan tertawa, ha ha ha

Persepsi dari peserta pada saat itu mungkin hal yang wajar, karena mereka selama ini tahu tentang hipnosis hanya dari acara reality show di tv, mereka mengira bila hypnoteaching sama dengan teknik hipnosis di acara tersebut.
Jadi apa donk yang dimaksud dengan hypnoteaching?
Pasti anda ingin tahu jawabannya kan?

Guru yang attractive dan disenangi murid adalah idaman semua guru, terlebih bila berhasil membuat siswanya berprestasi dan memiliki ahlak yang baik.

Anda mau ? …..lanjutkan membaca artikel ini secara perlahan !

Guru seharusnya terus memberdayakan diri guna meningkatkan kualitas pengajaran, tidak hanya menyampaikan ilmu tapi juga membangun karakter siswa, untuk itu sudah seharusnya   guru maupun dosen untuk selalu meng up to date diri sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pendidikan, salah satunya dengan mengikuti seminar Hypnoteaching yang biasa saya selenggarakan. Supaya  pelaksanaannya bisa berjalan efektif dan efisien, ada baiknya program ini dikoordinir oleh pihak Diknas, Sekolah atau  lembaga yang terkait. 

Oleh karena itu menjelang akhir tahun ini, jadwalkan segera pelaksanaan seminar Hypnoteaching di tempat Anda, dengan menghubungi no telepon 081310831118 .
Dengan teknik Hypnoteaching ini diharapkan menjadi salah satu solusi agar proses KBM di kelas menjadi jauh lebih efektif, Perlu Anda ketahui bersama, materi seminar Hypnoteaching diambil dari materi buku ini, namun pastinya akan dikupas lebih dalam dan lebih teknis, serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta seminar.


Hampir semua mengakui bahwa masih banyak persepsi negatif masyarakat terhadap Hypnoteaching, sebagian besar masih menganggap bahwa teknik ini tidak sesuai dengan syariah, ada juga yang berasumsi  jika guru mengikuti seminar hypnoteaching, mereka akan diajarkan bagaimana seorang guru bisa membuat siswa tidur di kelas dalam keadaan tidak sadar dengan bantuan jin, lalu mendoktrinnya sehingga guru tersebut menguasai pikiran siswa tersebut secara penuh.


Sulit untuk dibantah, masih  banyak opini  berkembang di kalangan masyarakat  mengenai hipnosis, bahkan di pemberitaan beberapa media massa yang menyebut hipnosis adalah salah satu bentuk modus kejahatan. Dan ironisnya sebagian besar orang awam yang mencerna informasi ini mentah-mentah dan langsung mempercayainya.


Tapi benarkah demikian ?


Untuk menjawab fenomena ini ada pertanyaan yang mendasar yang ingin saya lontar, apakah mereka yang melempar opini dan berita tentang hipnosis,  sudah pernah belajar hipnosis secara baik dan benar?


Supaya informasi tentang hipnosis ini menjadi terang benderang, Saya ingin berbagi  informasi penting  yang mungkin anda belum ketahui sebelumnya. Hal ini berdasarkan pengalaman saya selama ini saat memberikan training kepada ribuan peserta seminar di seluruh Indonesia, ada  4 kelompok masyarakat yang memiliki persepsi terhadap hipnosis, yaitu :


1.    Kelompok yang tidak tahu tentang hipnosis dan mereka  tidak mau tahu
2.    Kelompok yang tidak tahu tentang hipnosis tapi sok tahu

Kelompok ini yang banyak kita jumpai, bahkan bila Anda ingat, ada kelompok tertentu yang mengatakan bahwa hipnosis itu HARAM !
Alasannya karena hipnosis melibatkan jin dan siluman !
Namun Ketika ditanya “Apakah Anda pernah belajar hipnosis dengan baik dan benar?”, mereka menjawab belum pernah belajar hipnosis dan informasi yang mereka yakini selama ini ternyata hanya berdasarkan informasi ” katanya” dan...katanya.
3.    Kelompok yang tahu tentang hipnosis tapi pura-pura tidak tahu
4.    Kelompok yang tahu tentang hipnosis hasil dari belajar  dan mengaplikasikannya untuk hal yang bermanfaat, seperti untuk menghilangkang stress, trauma, phobia, menghentikan kebiasaan merokok, dll.


Nah itu hipnosis, bagaimana dengan Hypnoteaching ?


Perlu anda garis bawahi, Hypnoteaching yang saya bahas dalam buku  ini adalah hasil formula perpaduan antara ilmu hipnosis, komunikasi, psikologi dan teknik pengajaran di kelas. Sehingga tidak ada alasan apa pun yang bisa mengaitkan teknik ini dari mistik maupun klenik.


Ada hal  penting yang harus digaris bawahi dan diingat oleh para pembaca buku Hypnoteaching karya Ridwan Sank, Hypnoteaching bukanlah teknik prosedural tentang  cara mengajar di kelas yang berisi steps of teaching activity, seperti dalam lesson plan. Namun Hypnoteaching merupakan salah satu aplikasi teknik komunikasi untuk membantu meningkatkan  efektifitas pengajaran bagi guru, baik didalam maupun di luar kelas.
Sebagai tambahan, teknik Hypnoteaching lebih menitik beratkan kepada pola komunikasi efektif  dalam proses pengajaran, dan  cara bagaimana memberdayakan sosok guru agar lebih open minded, attractive, charming, appreciable & well performed.

Definisi Hypnoteaching
Bila anda rajin membaca buku dan mengikuti pelatihan, banyak sekali definisi dari Hypnoteaching yang dibuat oleh para pakar, namun dalam buku ini saya mencoba meramu dan mengolah definisi-definisi tersebut menjadi ramuan yang lebih membumi sehingga udah untuk dimengerti.


Menurut Saya,  Hypnoteaching itu adalah “Seni berkomunikasi dalam proses pengajaran dengan cara mengekplorasi alam bawah sadar, agar  siswa menjadi fokus, relaks dan sugestif dalam menerima materi pelajaran yang diberikan.”


Prinsip utama Hypnoteaching adalah “Bawalah dunia mereka (siswa) ke dunia kita (guru) dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.
Artinya sebelum kita (guru) membawakan materi pelajaran, seorang guru harus mau dan mampu menyamakan frekuensi antara dirinya dengan siswa untuk membangun hubungan yang positif (building rapport) sehingga komunikasi dalam proses KBM menjadi lebih kondusif dan efektif. Oleh karena itu sebelum guru meminta siswa untuk membuka mindset yang berorientasi kepada prestasi, guru harus bersedia untuk  membuka mindset nya terlebih dahulu.

FILOSOFI HYPNOTEACHING

Saya ingin bermain dengan anda, sekarang ikuti instruksi berikut ini :
1.    Coba siapkan sebotol air mineral yang masih bersegel, lalu pegang oleh tangan anda !
2.    Siapkan 1 gelas kosong dan beri penutup dari plastik, lalu pegang oleh teman anda !
3.    Coba anda dan teman anda berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 2 meter !
Pertanyaannya, bagaimana cara menuangkan air di dalam botol yang masih bersegel ke dalam gelas yang masih ditutup oleh plastik? Lakukan dengan urutan proses yang benar !

Saya yakin banyak di antara anda yang bisa melakukan permainan ini, tapi mungkin hanya sedikit yang bisa melakukan urutan prosesnya secara benar.

Permainan ini memiliki makna  filosofi yang dalam terkait dengan mindset dan hubungan komunikasi antara siswa dengan guru,  siswa itu diibaratkan sebuah gelas dan guru itu  diibaratkan sebuat botol air mineral.

Adapun urutan proses yang benar adalah:

1.    Pertama buka terlebih dahulu segel dan penutup botol  air mineral.
Makna    : Sebelum guru meminta siswanya untuk membuka mindset mereka  agar lebih terbuka saat menerima pelajaran, justru guru nya lah sendiri yang harus membuka mindsetnya terlebih dahulu agar lebih terbuka dalam mendidik siswa dengan orientasi  student centered
2.    Lalu bawa botol tersebut mendekat ke arah gelas yang masih tertutup dengan plastik
Makna    : Agar proses komunikasi dalam KBM di kelas berjalan kondusif, guru harus melakukan inovasi dalam teknik pengajaran dan lebih proaktif dalam berkomunikasi, berinteraksi dengan siswa, hilangkan barrier antara guru dan siswa, namun tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan dan mematuhi  peraturan.
3.    Kemudian buka plastik yang menutup gelas tersebut
Makna    : Setelah mindset guru sudah terbuka, barulah merubah  mindset siswa agar lebih terbuka, dan untuk menerima pendidikan dan  pengajaran dari  guru.
Apa yang terjadi bila kita menuangkan air kedalam gelas yang masih tertutup pelastik? Air akan tumpah dan terbuang  sia-sia kan?
Begitu hal nya dengan proses KBM di kelas, walaupun guru menerangkan materi di depan kelas sampai mulut berbusa, namun mindset siswa belum terbuka, maka proses KBM tidak akan efektif dan hasil nya pun tidak akan maksimal.

4.    Terakhir tuangkan air mineral ke dalam gelas
Makna    : Setelah mindset bekedua pihak berhasil  terbuka, secara otomatis akan terjadi penyamaan “frekuensi” antara guru dan siswa. Saya ibaratkan seperti Anda ingin mendengarkan radio  Gen FM dengan kualitas suara jernih dan jelas, maka anda harus men set gelombang radio  di frekuensi 98,7 FM. Jika saja Anda menggeser gelombangnya ke 98,2 FM, maka suaranya nya tidak akan jelas.

Begitu pula hal nya proses komunikasi antara guru dan siswa, frekuensinya harus sama, agar siswa menjadi lebih  fokus dan konsentrasi dalam menerima setiap materi pelajaran. Dan di sisi lain, guru pun lebih nyaman dan semangat untuk mengekplorasi potensi diri dalam melakukan proses pengajaran di kelas.

 

 

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Jasa website